Disebuah kampung hiduplah suami istri yang mempunyai tujuh orang anak. Semuanya laki-laki. Keluarga ini hidup bahagia. Raja yang memerintah negeri itu adil dan sangat bijaksana. Belum pernah terdengar ada kerusuhan yang membuat panik seluruh kerajaan.
Kehidupan suami istri beserta ketujuh anak lelaki itu aman dan tentram. Walaupun mata pencaharian keluarga itu hanya dari mencari kayu api ke hutan. Pagi hari mereka pergi ke hutan, sore pulang membawa kayu. Kemudian kayu api di jual kepada yang memerlukannya. Uang dari penjualan kayu itulah yang akan dipakai untuk keperluan sehari-hari.
Pada suatu ketika terjadilah musim kemarau yang amat panjang. Tanaman tak hendak tumbuh karena kering. Rakyat negeri memulai kekurangan makanan. Persiapan yang adapun sudah hampir habis, tetapi musim kemarau tak kunjung usai. Rakyat semakin banyak menderita kelaparan. Begitu juga suami istri dengan ketujuh anaknya itu.
Kayu di hutan yang selama ini dapat ditebang semakin berkurang. Mata pencaharian suami istri pencari kayu api semakin sulit. Sedangkan satu satunya pekerjaan selama ini dapat dikerjakan hanyalah mencari kayu api.
Pada suatu malam ketika ketujuh anak lelakinya tidur, mufakatlah suami istri itu. Karena tidak dapat mengatasi kesulitan hidup, mereka merencanakan meninggalkan ketujuh anaknya itu didalam hutan rimba. Mereka memang sedih berpisah dengan anak-anaknya, tetapi apa hendak dikata. Rupanya rencana kedua orang tua itu didengar oleh anak mereka yang paling kecil.
Keesokan harinya seperti biasa disiapkan perbekalan untuk mencari kayu api. Suami istri dan ketujuh anaknya itu ikut serta. Perjalanan masuk hutan keluar hutan, masuk
“Lebih baik kita mencari kayu yang lebih besar. Itu ada di tengah rimba,” kata ayah mereka menykinkan ketujuh anaknya itu.
Setelah lama berjalan mereka tiba di sebuah pohon rimba yang lebat. Pohon rimba itu besar-besar. Ketika itu hari sudah sore. Mereka semua sudah merasa lelah, maka keluarga itu pun beristirahat.
Tak berapa lama kemudian, berkatalah ayah mereka: “kalian disini beristirahat saja dulu. Ayah akan mengantar ibu mu karena ingin buang air besar.” Kesempatan itu di gunakan suami istri itu pencari kayu itu untuk pergi meninggalakan anak-anaknya. Hal ini sesuai dengan rencana mereka.
Setelah sekian lama pergi beberapa anak sudah mulai gelisah. Anak-anak itu cemas kalau-kalau orang tua mereka mendapat musibah. Anak yang tertua dengan ditemani dua orang adiknya akan berangkat menyusul orang tua mereka. Melihat keinginan itu, si kecil bercerita bahwa orang tua mereka sudah merencanakan untuk meninggalkan mereka di tengah hutan.
Malampun tiba. Mereka mereka berusaha mencari tempat berlindung dari udara dingin. Kebetulan di dekatnya ada sebuah pohon besar yang berlubang. Tempat itu kelihatan seperti gua. Disanalah mereka tidur sampai pagi.
Setelah beberapa hari tinggal di lubang katu, abangnya yang tertua mencoba naik ke pohon yang paling tinggi. Dan nampaknya kepada mereka dari kejauhan asap api mengepul ke udara, lalu dia turun. Kemudian dia meminta kepada semua adiknya bersiap-siap untuk pergi menuju asap api. Setelah berjalan jauh tibalah mereka di pinggir kampong. Lalu mereka mendekati sebuah rumah. Tetapi betapa terkejut setelah melihat penghuninya seorang manusia yang sangat besar. “ini mungkin rumah raksasa”, pikir mereka.
Tak berapa lama kemudian terdengar suara agar mereka segera naik ke atas rumah. Rupanya suara raksasa betina. “kalian cepat-cepat makan. Lalu naik keatas loteng. Bersembinyilah disana. Kalau tidak sebentar lagi kalian dikan suami saya. Tak lama lagi dia pulang dari berburu,” kata raksasa betina. Ketika raksasa jantan tiba, di di tangga rumah berkata pada istrinya: “wah kita makan enak ya.
Tiba di tepi pantai mereka membuat perahu. Dengan perahu itulah krtujuh anak lelaki itu ngarungi lautan. Setelah beberapa lama tibalah mereka di sebuah negeri. Negeri itu diperintah oleh raja yang bijaksana. Di negeri ini meraka dapat memeli tanah untuk dapat ditanami. Mereka masing-masing mendapatkan tanah yang cukup luas. Ketujuh lelaki itu hidup aman dan damai. Pada suatu hari anak yang paling kecil teringat kepada orang tua mereka. Mereka bertujuh rupanya mulai rundi kepada ayah dan ibu yang melahirkannya. Dalam suatu acara khusus mufakatlah mereka bertujuh mencari orang tuanya.
Pada hari yang telah ditentukan berangkatlah mereka mencari orang tuanya. Perjalanan di tempuh dari kampong ke kampong. Dimanakah gerangan kini. Di sebuah kampung di temuilah orang tua mereka dalam keadaan tua dan hidup sangat menderita. Ketujuh anak lelaki itu sangat sedih melihat nasib ayah dan ibunya. Lalu mereka membawa orang tua itu ke kampung mereka dan tinggal di rumah yang bagus. Orang tua yang dulu bekerja sebagai pencari kayu api itu kini tinggal menjalankan ibadah saja. Segala keperluan sudah dicukupi oleh anak-anaknya yang sudah terbilang kaya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar